Ketum ISTMI Bicara Soal Dugaan Mark Up LRT Palembang 

0
351

JAKARTA today | Demi mengurangi dampak kemacetan di kawasan perkotaan, berbagai pembangunan khususnya infrastruktur jalan raya terus dilakukan, hal ini dianggap sebagai salah satu solusi meski dampaknya belum terasa maksimal. Selain pembuatan jalan raya. Ada pula pembangunan Light Rail Transit (LRT) atau moda transportasi berbasis rel yang saat ini tak hanya gencar di kerjakan di Ibukota namun juga di beberapa daerah lainnya di luar pulau Jawa. LRT yang merupakan moda transportasi massal kekinian, merupakan salah satu pilihan karena dibangun dengan jalur layang (elevated)‎. ‎ Sementara itu, guna mendukung berhasilnya proyek tersebut maka paling tidak diperlukan modal kerja bernilai jutaan dollar Amerika. ‎ Terbaru dan tengah ramai diperbincangkan publik yakni soal adanya dugaan penggelembungan biaya (mark up)‎pembangunan proyek LRT di bumi Sumatera, tepatnya di Palembang. Dugaan Mark Up ini disampaikan oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. ‎

Prabowo menyebut ‎jumlah mark up LRT di Palembang mencapai 500 persen. Data ini ia dapatkan dari Anies Baswedan yang kini menjabat DKI 1. Anies menyampaikan, ” Pak Prabowo, indeks termahal LRT di dunia 1 km adalah 8 Juta dollar,”. ‎”Saya tanya harganya berapa proyeknya. Rp 12,5 triliun. Luar biasa. Rp 12,5 triliun untuk (LRT) sepanjang 24 km,” kata Prabowo di Palembang, Kamis (21/6/2018). ” Kalau ini Rp 12 triliun untuk 24 km, berarti 1 km 40 juta dollar. Bayangkan. Di dunia 1km 8 Juta dollar, di Indonesia 1km 40 juta dollar. Jadi saya bertanya kepada saudara-saudara, mark up penggelembungannya berapa? 500 persen. “Saudara-saudara sekalian, 500 persen, mencurinya 400 persen. 8 Juta dollar di luar negeri sudah untung, kalau tidak untung mereka tidak kerja, kalau hitungan saya ini disana untung minimal 20-30 persen. Ini betapa, 500 persen. Bayangkan 400. Aduh 40 juta dollar, 1km jadi 32 juta dollar yang hangus. ‎

Foto : Ir. Faizal Safa
Ketua Umum ISTMI

Terkait pernyataan Prabowo Subianto, Ikatan Sarjana Teknik Manajemen Industri Indonesia memiliki pandangan tersendiri. Menurut ‎Ketua Umum ISTMI, Faizal Safa, saat berbincang dengan Indonesiatoday.com, Jumat (6/7/2018), besaran biaya Pembangunan LRT  di setiap negara sangat bervariabel. B‎iaya LRT kata Faizal sangat bervariasi dan dipengaruhi  oleh beberapa faktor sebagai berikut ;‎ Jenis konstruksi : at-grade, elevated, tunnel jumlah stasiun, jumlah rolling stock dan kapasitas depo Teknologi yang digunakan : struktur sipil, sistem persinyalan (fixed block / moving block), power supply, telekomunikasi ‎ Kemudian tingkat kesulitan lokasi : diatas lahan kosong berbeda dengan lahan yang banyak utilitas dalam salah satu referensi  “urban transportation training handbook” yang diterbitkan oleh JICA (2011), dijelaskan bahwa biaya pembangunan awal (initial investment cost) untuk transportasi berbasis rel yaitu sekitar : Subway : ¥ 20-30 miliar (USD 181-272 juta) per km Monorail : ¥ 5-10 miliar (USD 45-90 juta) per km LRT : ¥ 2-4 miliar (USD 18-37 juta) per km Terkait nilai kontrak pembangunan LRT di Indonesia (Khususnya LRT Palembang) yang dinilai relatif besar, dijelaskan bahwa nilai kontrak tersebut bukan merupakan nilai mutlak, tetapi pembayarannya dilakukan berdasarkan realisasi atas pengeluaran kontraktor yang telah diaudit oleh BPKP. Kesimpulannya dikatakan Faisal, adalah dalam melakukan komparasi biaya pembangunan infrasktruktur LRT antar negara harus merujuk kepada variabel teknis dan non teknis secara holistik agar lebih obyektif analisis thesisnya.

Monty

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here