Home / Berita Terbaru / Soal Desakan Realisasi Commitment Fee Hingga Terancam Ke-Jeruji Besi
Indonesia Today

Soal Desakan Realisasi Commitment Fee Hingga Terancam Ke-Jeruji Besi

JAKARTA today | Sidang lanjutan kasus dugaan suap terkait proyek penambahan satelit monitoring dan drone Bakamla, Anggaran Perubahan APBN tahun 2016 kembali digelar hari ini di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Senin (16/09).

Erwin Syaaf Arief (terdakwa/red) selaku Managing Director PT. Rohde and Schwarz Indonesia diduga ikut menikmati aliran dana realisasi commitment fee senilai EUR 35.000 dimana menurut pengakuan terdakwa uang tersebut juga telah disita oleh KPK.”Saya sudah kembalikan atas permintaan KPK dengan menggunakan uang pribadi saya yang saat ini telah diblokir oleh KPK,” kata Erwin.

Dalam kasus ini, Erwin Syaaf Arief didakwa bersama – sama Direktur Utama PT. Merial Esa, Fahmi Darmawansyah telah menyuap Fayakhun Andriadi selaku anggota Komisi I DPR periode 2014-2019 sebesar 911.480 dollar AS.

Peristiwa ini bermula ketika PT. Merial Esa selaku pemenang tender memesan satelit monitoring produk milik perusahaan PT. Rohde and Schwarz Indonesia dengan harga EUR 11.250.000, sementara harga barang tersebut berkisar EUR 8.000.000.

Soal realisasi commitment fee, erwin mengakui diminta mantan anggota Komisi I DPR-RI Fayakhun Andriadi untuk selalu mempertanyakan hal ini kepada Fahmi selaku Direktur Utama PT. Merial Esa.

“Waktu itu Pak Fayakhun selalu tidak berhasil menelepon Pak Fahmi, Akhirnya beliau mendesak saya berkali-kali untuk menyampaikan pesan beliau kepada Pak Fahmi,” terang Erwin.

Dirinya juga mengungkapkan terkait kesepakatan realisasi commitment fee antara Fayakhun dan Fahmi dalam proyek tersebut belakangan ini baru ia ketahui sebesar 911.480 dollar Amerika Serikat.”Saya tidak berpikir jauh saat itu, karena saya sudah kenal Pak Fayakhun cukup lama, saat beliau tidak bisa menghubungi Pak Fahmi, ya saya lillahi ta’ala kirim aja,” terangnya.

BACA JUGA :  Jaksa Tuntut Terdakwa Erwin Syaaf Arief Tiga Tahun Enam Bulan Penjara

Pemberian itu, lanjutnya, dengan maksud agar Fayakhun mengupayakan penambahan anggaran Badan Keamanan Laut (Bakamla) untuk pengadaan proyek satelit monitoring dan drone dalam APBN Perubahan tahun 2016.

“Pak Fayakhun mendesak apabila sudah ditransfer coba tolong buktikan. Dikirim buktinya sama Adami (Karyawan PT. Merial Esa) yang selanjutnya dikirim ke saya dan langsung di forward ke Fayakhun,” lalu Saya confirm lagi dan dijawab, ‘Done thanks bro’. Ulasnya.

Setelah transaksi, kemudian Fayakhun Andriadi memerintahkan stafnya untuk segera mencairkan uang tersebut agar dapat digunakan dalam kegiatan politiknya. Atas perbuatannya dalam perkara ini Fayakhun sendiri telah divonis delapan tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. (Op)

Check Also

Indonesia Today

Dandim 0201/BS Tinjau Goro dan Bangunan SD Persit Kartika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *